Terkendala Pasokan Batubara, Industri Semen Beli di Harga Non DMO Ani Diyah, 16/04/2026 Krisis Pasokan Batu Bara Mendorong Industri Semen Menghadapi Tekanan Operasional dan Lonjakan Biaya Asperssi Mengungkap Gangguan RKAB Batu Bara yang Menekan Ketersediaan Energi Industri Semen Industri semen Indonesia menghadapi tekanan serius akibat gangguan pasokan batu bara yang memengaruhi kelancaran produksi. Asosiasi Perusahaan Semen Seluruh Indonesia (ASPERSSI) menjelaskan bahwa keterlambatan persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara dari Kementerian ESDM menyebabkan produsen kesulitan memperoleh bahan bakar utama. Kondisi ini kemudian mengganggu stabilitas operasional pabrik semen di berbagai daerah. Selain itu, kebijakan penyaluran batu bara juga mengalami penyesuaian melalui naskah dinas terbaru yang mengatur prioritas pasokan untuk kebutuhan tertentu. Situasi tersebut mempersempit akses industri semen terhadap pasokan batu bara yang selama ini menjadi sumber energi utama dalam proses produksi klinker di rotary kiln. Pemerintah Menerapkan Prioritas Pasokan Batu Bara yang Memengaruhi Distribusi Industri ASPERSSI menjelaskan bahwa perubahan regulasi melalui PP Nomor 39 Tahun 2025 turut memengaruhi distribusi batu bara nasional. Pemerintah memprioritaskan pasokan batu bara untuk BUMN yang mengelola sektor ketenagalistrikan, energi, dan industri strategis lainnya. Akibatnya, sebagian industri semen swasta menghadapi keterbatasan akses terhadap pasokan batu bara yang lebih stabil. Ketua Umum ASPERSSI, Lilik Unggul Raharjo, menegaskan bahwa aturan tersebut belum sepenuhnya memiliki petunjuk teknis yang jelas. Oleh karena itu, pelaku industri masih menunggu kepastian implementasi kebijakan agar distribusi batu bara dapat berlangsung lebih adil dan merata di seluruh sektor. Industri Semen Menghadapi Keterbatasan DMO Batu Bara dan Ketergantungan pada Pasar Spot Ketua Pengawas ASPERSSI sekaligus Direktur Utama PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (INTP), Christian Kartawijaya, menjelaskan bahwa industri semen masih menunggu kepastian alokasi Domestic Market Obligation (DMO) batu bara. Ia menyebutkan bahwa beberapa perusahaan saat ini terpaksa membeli batu bara dari pasar spot dengan harga non-DMO yang mengikuti fluktuasi global. Selain itu, kondisi tersebut mendorong kenaikan biaya produksi yang pada akhirnya berpengaruh terhadap harga jual semen di pasar. Christian juga menyoroti perlunya kebijakan yang konsisten agar seluruh pelaku industri, baik BUMN maupun swasta, dapat bersaing secara adil tanpa distorsi harga energi. Industri Semen Mengalami Kenaikan Harga dan Penurunan Stok Batu Bara Seiring meningkatnya biaya energi, sejumlah perusahaan semen mulai menaikkan harga jual produk mereka, terutama di luar Pulau Jawa. Kenaikan tersebut mencapai sekitar Rp2.000 per sak berukuran 50 kilogram akibat lonjakan ongkos produksi dan distribusi. Selain itu, ASPERSSI mencatat bahwa stok batu bara industri semakin menipis dan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga akhir Maret 2026. Kondisi ini bahkan telah menyebabkan beberapa pabrik menghentikan operasional sementara akibat kesulitan memperoleh pasokan energi dan meningkatnya biaya produksi. Outdoors krisis batu bara industri semen Indonesia harga semen naik