Biaya Energi Melonjak Akibat Perang, Indocement Naikkan Harga Semen Ani Diyah, 16/04/2026 Indocement Menaikkan Harga Semen di Tengah Lonjakan Biaya Energi Akibat Ketegangan Geopolitik Global Indocement Menghadapi Lonjakan Biaya Energi yang Mendorong Penyesuaian Harga Jual PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) menaikkan harga jual semen di tengah meningkatnya tekanan biaya operasional yang dipicu lonjakan biaya energi global. Perusahaan menilai kenaikan tersebut terjadi seiring memanasnya konflik geopolitik dunia, termasuk perang Iran, Amerika Serikat, dan Israel, yang ikut mengganggu harga energi internasional. Presiden Direktur Indocement, Christian Kartawijaya, menjelaskan bahwa harga bahan bakar industri mengalami kenaikan bertahap sejak awal tahun. Ia mencatat kenaikan 11 persen pada Januari hingga Maret, lalu meningkat menjadi 22 persen pada pertengahan Maret, dan mencapai akumulasi 35,6 persen per 1 April 2026. Lonjakan ini kemudian menekan struktur biaya produksi perusahaan secara langsung. Indocement Menyebut Biaya Tambang dan Logistik Ikut Terdampak Kenaikan Energi Indocement mencatat bahwa kenaikan biaya energi berdampak pada berbagai komponen produksi, termasuk biaya tambang yang menyumbang sekitar 10 persen dari total biaya produksi. Selain itu, kenaikan bahan bakar juga memengaruhi biaya operasional alat berat, dengan kontribusi sekitar 3,6 persen terhadap total biaya. Perusahaan juga menghadapi tekanan tambahan dari sektor logistik, terutama pada distribusi luar Pulau Jawa yang sangat bergantung pada bahan bakar kapal. Christian menjelaskan bahwa biaya bunker fuel meningkat signifikan dan memperbesar beban pengiriman. Dengan kondisi tersebut, total biaya logistik diperkirakan naik 4 hingga 5 persen. Indocement Melakukan Penyesuaian Harga Secara Bertahap untuk Menjaga Daya Beli Pasar Menghadapi tekanan biaya tersebut, Indocement mulai menaikkan harga jual secara bertahap di pasar. Perusahaan menaikkan harga sekitar Rp1.500 hingga Rp3.000 per sak atau sekitar 2 hingga 4 persen. Christian menegaskan bahwa perusahaan tetap berhati-hati dalam menerapkan penyesuaian agar tidak menekan daya beli konsumen. Ia menambahkan bahwa kenaikan tersebut masih belum sepenuhnya menutup tekanan biaya produksi yang terjadi. Untuk wilayah luar Jawa, perusahaan memperkirakan kebutuhan kenaikan ideal mencapai Rp3.000 hingga Rp5.000 per sak, sementara di Jawa sekitar Rp1.500 hingga Rp2.000 per sak. Indocement Mengantisipasi Dampak Batu Bara dan Pelemahan Rupiah terhadap Biaya Produksi Selain energi, Indocement juga menghadapi tekanan dari harga batu bara yang menyumbang 30 hingga 40 persen biaya produksi. Perusahaan turut mencermati fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS karena sekitar 40 hingga 50 persen biaya masih berbasis mata uang dolar. Christian menegaskan bahwa perusahaan terus menghitung dampak keseluruhan biaya sambil menunggu perkembangan harga batu bara terbaru. Ia juga menyebut perusahaan harus menjaga keseimbangan antara penerusan biaya ke pasar dan risiko penurunan daya beli konsumen. Outdoors Indocement naikkan harga semen biaya energi