Harga Semen dan Besi Berpotensi Naik, Begini Dampaknya Bagi Industri Properti Ani Diyah, 16/04/2026 REI Menilai Kenaikan Harga Semen dan Besi Berpotensi Mendorong Lonjakan Harga Properti REI menjelaskan dampak kenaikan biaya material terhadap seluruh segmen properti di tengah tekanan ekonomi global JAKARTA – Real Estat Indonesia (REI) menilai potensi kenaikan harga semen dan besi dapat mendorong kenaikan harga properti di Indonesia. Kondisi ini muncul seiring meningkatnya biaya material bangunan yang terdampak dinamika geopolitik di Timur Tengah dan kenaikan biaya transportasi global. Wakil Ketua Umum REI, Bambang Ekajaya, menjelaskan bahwa kenaikan biaya material akan memberikan dampak luas pada seluruh jenis properti. Ia menegaskan bahwa sektor perumahan dan pembangunan gedung sangat bergantung pada stabilitas harga bahan bangunan dalam struktur biaya produksi. Bambang kemudian menjelaskan bahwa biaya material memiliki kontribusi signifikan terhadap harga jual properti. Ia menyebut bahwa pada rumah tapak, porsi material bangunan dapat mencapai 20% hingga 30% dari total harga properti. Sementara itu, pada proyek gedung bertingkat, kontribusi biaya material bahkan dapat mencapai 50% hingga 60%. Selain itu, ia juga menyoroti tingginya sensitivitas harga material terhadap biaya transportasi. Ia menjelaskan bahwa ongkos logistik dapat mencapai sekitar 30% dari harga material, terutama karena sebagian besar material bangunan memiliki bobot yang besar seperti semen dan besi beton. Bambang kemudian menambahkan bahwa kondisi geopolitik global turut memengaruhi kenaikan biaya logistik. Ketidakstabilan di sejumlah kawasan membuat rantai pasok menjadi lebih mahal dan tidak efisien, sehingga berdampak langsung pada industri konstruksi. REI mendorong stabilitas kebijakan BBM untuk menahan tekanan biaya konstruksi di sektor properti REI menilai kebijakan pemerintah dalam menjaga harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi tetap stabil menjadi faktor penting untuk menahan laju kenaikan biaya konstruksi. Bambang menilai kebijakan tersebut membantu menjaga keseimbangan biaya transportasi material bangunan di tengah tekanan global. Ia menjelaskan bahwa meskipun pemerintah telah berupaya menjaga stabilitas harga BBM, sektor properti tetap menghadapi risiko kenaikan biaya akibat fluktuasi harga minyak dunia. Oleh karena itu, ia menilai perlunya langkah antisipatif agar dampak kenaikan biaya tidak menekan daya beli masyarakat. Bambang juga menyampaikan bahwa beberapa material bangunan sudah mulai mengalami kenaikan harga meskipun masih dalam batas terkendali. Namun ia menegaskan bahwa tekanan biaya ini berpotensi meningkat jika kondisi global tidak membaik dalam waktu dekat. Dengan kondisi tersebut, REI mendorong pelaku industri dan pemerintah untuk terus menjaga stabilitas kebijakan energi dan rantai pasok material. Ia menilai langkah tersebut penting untuk menjaga keberlanjutan sektor properti di tengah ketidakpastian ekonomi global. Outdoors kenaikan harga semen dan besi properti