Indocement (INTP) Hadapi Tantangan di 2026: Biaya Energi Naik & Rupiah Melemah Ani Diyah, 16/04/2026 Indocement Menghadapi Tekanan Biaya Energi dan Pelemahan Rupiah pada 2026 PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) menghadapi tantangan berat sepanjang 2026 karena kenaikan biaya energi dan pelemahan nilai tukar rupiah. Meskipun demikian, perusahaan tetap mengoptimalkan berbagai strategi untuk menjaga kinerja di tengah tekanan industri semen nasional yang masih lesu. Direktur Utama Indocement Christian Kartawijaya menjelaskan bahwa konflik geopolitik di Timur Tengah mendorong kenaikan harga minyak dunia dan berdampak langsung pada biaya operasional perusahaan. Ia menegaskan bahwa kenaikan tersebut ikut mengerek harga bahan bakar industri yang digunakan dalam produksi semen. Perusahaan menaikkan biaya bahan bakar industri dan menekan biaya produksi Christian menyebut harga BBM industri di perusahaan sudah naik dua kali dengan total kenaikan sekitar 34% hingga 36%. Kondisi ini memberikan tekanan besar karena biaya energi menyumbang sekitar 40% hingga 50% dari total biaya produksi semen. Selain itu, pelemahan rupiah yang menembus level Rp17.000 per dolar AS ikut menambah beban karena sebagian transaksi perusahaan menggunakan mata uang asing. Untuk merespons situasi tersebut, Indocement menyesuaikan harga jual semen secara bertahap. Perusahaan menaikkan harga semen sekitar 2% hingga 3% pada Maret untuk wilayah di luar Jawa dan kembali menerapkan penyesuaian serupa pada April 2026. Langkah ini dilakukan untuk menjaga keseimbangan biaya tanpa mengganggu daya beli pasar secara signifikan. Perusahaan meningkatkan penggunaan bahan bakar alternatif untuk menekan ketergantungan batubara Indocement terus memperkuat penggunaan bahan bakar alternatif berupa Refuse Derived Fuel (RDF) yang berasal dari limbah padat seperti sampah. Perusahaan memanfaatkan RDF dari TPST Bantargebang untuk mengurangi ketergantungan pada batubara. Pada 2020, porsi bahan bakar alternatif baru mencapai 9,3%, namun meningkat menjadi 29% pada 2025. Perusahaan menargetkan kontribusi energi alternatif mencapai 42% pada 2030 untuk memperkuat efisiensi jangka panjang. Perusahaan mengandalkan pertumbuhan permintaan dan efisiensi distribusi untuk menjaga kinerja Indocement tetap optimistis terhadap prospek 2026 seiring proyeksi pertumbuhan pasar semen nasional sebesar 1% menurut ASPERSSI. Permintaan juga berpotensi meningkat dari program pembangunan tiga juta rumah serta proyek infrastruktur seperti MRT, jalan tol, dan Giant Sea Wall. Perusahaan juga memperkuat jaringan distribusi melalui pabrik Grobogan, fasilitas penggilingan di Banyuwangi, serta kerja sama pabrik di Maros. Selain itu, perusahaan mengoptimalkan terminal distribusi di berbagai wilayah untuk menekan biaya logistik. Pada 2025, Indocement mencatat pendapatan Rp17,73 triliun atau turun 4,4% secara tahunan, sementara volume penjualan domestik turun 3,9% menjadi 19,39 juta ton. Namun, laba bersih tetap tumbuh 12% menjadi Rp2,25 triliun dan pangsa pasar bertahan di level 29,1%. Outdoors Indocement tantangan 2026 biaya energi