Dampak kenaikan harga bahan, REI Jabar usulkan kenaikan harga rumah subsidi 5-10 persen setelah tiga tahun stagnan Ani Diyah, 16/04/2026 REI Jawa Barat Mendorong Kenaikan Harga Rumah Subsidi Saat Biaya Bahan Bangunan Terus Naik REI Jawa Barat Menilai Biaya Produksi Properti Makin Berat di Tengah Tekanan Ekonomi Industri properti di Jawa Barat menghadapi tekanan yang semakin besar pada 2026. Setelah moratorium perizinan membatasi ruang gerak pengembang sejak akhir 2025, para pelaku usaha kini kembali menghadapi lonjakan biaya bahan bangunan yang diperkirakan terus berlanjut akibat ketegangan geopolitik global. Ketua DPD Real Estate Indonesia (REI) Jawa Barat, Norman Nurdjaman, menilai kondisi ini berlangsung sangat tidak menguntungkan bagi pengembang. Di satu sisi, daya beli masyarakat sedang melemah. Namun di sisi lain, biaya pembangunan justru terus meningkat sehingga pengembang harus menanggung beban yang semakin berat. Norman menyampaikan bahwa tantangan tersebut sudah terasa sejak beberapa bulan terakhir. Ia menilai sektor perumahan di Jawa Barat kini bergerak dalam situasi yang kontradiktif karena pasar melemah, sementara harga material terus merangkak naik. REI Jawa Barat Melihat Harga Material Naik Lebih Dulu di Lapangan Norman menjelaskan bahwa kenaikan harga bahan bangunan sebenarnya sudah terjadi sebelum pemerintah memberi sinyal kenaikan harga semen dan besi. Ia menyebut moratorium izin tambang di Jawa Barat sejak Agustus 2025 memicu kelangkaan material alam, terutama pasir dan batu, sehingga harga komoditas dasar itu lebih dulu naik. Kenaikan tersebut lalu merambat ke material lain seperti paving block. Besi juga ikut bergerak naik, meski masih dalam kisaran 1 sampai 2 persen dalam beberapa bulan terakhir. Menurut Norman, rangkaian kenaikan ini membuat biaya pembangunan rumah subsidi tidak lagi sejalan dengan harga jual yang berlaku saat ini. REI Jawa Barat Mendesak Pemerintah Merevisi Harga Rumah Subsidi Melihat tekanan biaya yang terus meningkat, REI Jawa Barat mendesak pemerintah segera menyesuaikan harga acuan rumah subsidi atau rumah sejahtera tapak. Norman menilai harga rumah subsidi bagi masyarakat berpenghasilan rendah sudah hampir tiga tahun tidak berubah, padahal ongkos produksi terus naik. Ia mengusulkan kenaikan harga rumah subsidi sebesar 5 hingga 10 persen agar pengembang bisa tetap membangun secara sehat. Di Jawa Barat di luar Bodetabek, harga rumah subsidi saat ini masih berada di kisaran Rp166 juta. Menurut perhitungannya, kenaikan 5 persen akan membawa harga menjadi sekitar Rp174 juta, angka yang masih realistis untuk menutup kenaikan bahan bangunan. REI Jawa Barat Menilai Pasar Masih Bisa Menyerap Kenaikan Secara Bertahap Norman juga menilai kenaikan harga rumah subsidi tidak langsung membebani pembeli secara signifikan. Ia mencontohkan, cicilan rumah seharga Rp166 juta berada di sekitar Rp1 juta per bulan. Jika harga naik 5 persen, cicilan hanya bertambah sekitar Rp50 ribu per bulan. Karena itu, ia menilai penyesuaian harga lebih masuk akal dibanding membiarkan pengembang tertekan hingga tidak bisa membangun. Hingga kini, para pengembang di Jawa Barat masih menunggu langkah konkret pemerintah pusat agar sektor properti tidak semakin tertekan di tengah ketidakpastian ekonomi global. Outdoors REI Jawa Barat usulkan kenaikan harga rumah subsidi